Demontrasi kontekstual modul 1.1
PERUMPAMAAN PEMIKIRAN KI
HAJAR DEWANTARA
DENGAN CHEF DAN RESEP
MASAKAN
Izinkan saya untuk memaparkan refleksi
saya terkait pemikiran Ki Hajar Dewantara dalam demonstrasi kontekstual, untuk
membuat kita lebih memahami impian besar beliau untuk membawa anak Indonesia
mencapai kemerdekaan belajar. Yang ingin saya sampaikan Disini Beliau berkata
bahwa pendidikan adalah tempat persemaian benih benih kebudayaan.
Saya umpamakan di sini benih-benih
kebudayaan itu seperti halnya bumbu masakan . Dan anak sebagai bahan utama
resep masakan tersebut. Guru adalah chef. Misalnya kita ingin membuat pepes
dengan 2 bahan utama ini. Padahal kita tahu bahwa karakteristik daging kambing
dan ayam berbeda, sehingga kita harus
menyesuaikan bumbu mana yang sesuai untuk daging ayam dan bumbu apa yang cocok untuk daging kambing
agar menghasilkan masakan yang istimewa. Ayam dan daging kambing memiliki
karakteristik yang berbeda-beda mulai dari tekstur kemudian warna ,kulit dan
struktur tulang-tulangnya. Demikian juga pada peserta didik kita kita tidak
bisa mendidik mereka semua agar bisa menjadi dokter atau semua menjadi guru
perawat yang pada masakan tadi saya ibaratkan sebagai pepes. Jadi tidak semua
daging cocok untuk kita jadikan pepes misalnya kalau ayam bisa kita jadikan
pepes tetapi kalau daging kambing umumnya daging kambing itu cocok untuk gulai
dan sate. Demikian pula Jika kita ingin mendidik anak-anak, mereka telah
memiliki kodrat alam nya dengan budaya budaya yang telah melekat dari
lingkungan primer mereka. Maka tugas kita sebagai guru hanya menebalkan garis-garis
baik yang telah ada dan menyamarkan garis-garis yang kurang baik yang akan membahayakan
masa depan mereka. Jadi kita tidak bisa mengisi anak itu sesuai kehendak
kita. kita hanya menuntun mereka
memberikan fasilitas dukungan motivasi stimulasi agar mereka mendapat pegangan
hidup ke arah yang lebih baik. Anak adalah pribadi yang unik dengan bakat dan
talenta yang luar biasa. Di dalam
pembelajaran kita menuntun mereka bagaimana cara mereka memecahkan permasalahan,
bagaimana mereka berkomunikasi yang efektif dengan lingkungan karena itu
kreativitas dan keterampilan sosial sangatlah penting untuk membangkitkan
kodrat alam karena seperti kata Ki Hajar Dewantara kodrat keadaan ini haruslah
beriringan dalam perkembangannya. Kita juga harus membimbing memperlihatkan
kepada lingkungan sosial anak termasuk kepada orang tua siswa bahwa bukan hanya
keterampilan kognitif yang penting ditunjukkan oleh nilai yang tinggi mendapat
rangking dan sebagainya namun ada satu hal yang lebih esensial untuk diraih
yaitu kecakapan sosial bagaimana mereka berinteraksi berpikir kritis dan
bertahan di dalam hidup di era global
ini.
Kembali kepada resep masakan tadi, maka dalam
membuat masakan harus ada 4 keahlian disana yg bersatu yaitu kalau dalam
pemikiran ki hajar adalah OLAH CIPTA..ini saya ibaratkan pengetahuan sang chef
untuk membuat masakan yg berkualitas, demikian juga dengan seorang guru, guru
harus bisa menciptakan profil pelajar seperti yang diharapkan, OLAH RASA..disini
ada rasa yang berperan untuk mencicipi masakan tsb, mulai dari proses maupun
hasilnya, kemudian OLAH KARSA yaitu ada kemauan dari sang kreator yang berasal
dari adanya tuntutan atau permintaan pasar. Dan tidak kalah penting adalah OLAH
RAGA, ini saya ibaratkan adalah stamina sang kreator dalam hal ini adalah chef.
Agar selalu energic dalam memberikan pelayanan. Dan kualitas daging yang akan
dimasak yang dalam hal ini adalah siswa. Satu komponen lagi dalam memasak yg
tdk boleh dilupakan yaitu alat untuk memasak. Disini saya artikan sebagai
sarana dan prasarana penunjang pendidikan siswa. Kelima komponen ini harus
dilaksanakan secara holistik agar tercipta masakan yang berkualitas.
Dalam konteks TRIKON ada 1). KONTINUITAS yaitu
pemikiran KHD yang mengamantkan kita
agar melakukan dialog kritis dengan sejarah, kita tidak boleh lupa dengan akar
akar budaya yang kita miliki. Walaupun perubahan menjawab kodrat zaman namun
nilai esensi dari masyarakat hrs tetap dijaga, demikian juga dengan resep masakan,
walaupun terus berkembang mengikuti zaman namun nilai esensi budaya masakan itu
sendiri harus dijaga, disini diperlukan
keahlian dari sang chef untuk memahami bumbu2 khas dari daerah masing2 dan
menyelipkan sentuhan budaya ke dalam masakannya serta menginovasikan agar
sesuai dengan selera konsumen. 2). KONVERGENSI yaitu perubahan perubahan yang
kita lakukan harus memperkuat nilai kemanusiaan. Pendidikan harus memanusiakan
manusia dengan memperkuat nilai kemanusiaan. Jika diumpamakan dengan resep
masakan, maka walaupun berubah bentuk sesuai permintaan, namun rasa asli dari
masing2 bumbu ini harus ada untuk menciptakan harmonisasi rasa. 3). KONSENTRIS adalah pendidikan ini harus
menghargai keragaman dan memerdekakan pelajar. Ibarat resep masakan, disana ada
beraneka ragam bahan utama, beserta bumbunya. Walaupun mereka nanti hasil
akhirnya memenuhi kepuasan konsumen, namun harus disadari bahwa keanekaragaman
itulah yang menciptakan perpaduan rasa yg enak.
Seperti yang diamanatkan pemerintah sesuai
pemikiran KHD, bahwa merdeka belajar menempatkan rekan belajar yaitu guru siswa
dan kepala sekolah dalam sebuah institusi sekolah sebagai tokoh utama dalam
proses pengajaran dan pembelajaran diberikan otoritas yang luas sehingga saat
ini fokus pada peningkatan kualitas belajar siswa. Demikian juga halnya seorang
chef, dia memiliki otoritas dan kebebasan dalam menentukan model2 masakan yg
dibuat namun tetap harus berpegang pada keunikan dari ragam bahan2 masakan
tersebut.
Terkait dengan Tri Pusat Pendidikan maka antara
ketiga komponen ini harus tercipta sinergitas yang konsisten. Komponen
lingkungan tersebut yaitu:
1.
Kualitas bahan utama yaitu bibit ayam
dan kambing yang muncul dari lingkungan primernya.
2.
Chef dan alat masakan sebagai lingkungan
pendidikan dimana daging itu diolah
3.
Lingkungan organisasi pemuda dan
masyarakat tempat asal sekaligus nanti masakan itu disajikan.
Apakah masakan ini akan bisa diterima atau tidak tergantung dari kualitas rasa
dan tampilan yg ditunjukkan oleh masakan tsb.
Demikian yang bisa saya paparkan tentang
perumpamaan pemikiran-pemikiran Ki Hajar Dewantara dalam kehidupan sehari-hari.
Mohon maaf jika ada kesalahan. Semoga bisa menginspirasi terima kasih.
Comments
Post a Comment