REFLEKTIF KRITIS PEMIKIRAN KI HAJAR DEWANTARA
1. Tulisan
Reflektif Kritis
·
Pemikiran Ki Hajar Dewantara mengenai
Pendidikan dan Pengajaran
Munculnya degradasi nilai dalam masyarakat
sebagai akumulasi pendidikan yang lebih mengedepankan transformasi pengetahuan (knowledge)
daripada transformasi nilai (value) dalam sistem pendidikan, telah
menyadarkan para pemangku pendidikan di Indonesia untuk kembali meletakkan
pilar filosofi pendidikan yang dicetuskan oleh tokoh-tokoh pendidikan di
Indonesia. Tokoh yang paling terkenal adalah Ki Hajar Dewantara. Beliau adalah
seorang bangsawan dari lingkungan Keraton Yogyakarta yang sangat peduli dengan
lingkungan pendidikan.
Menurut Ki Hajar Dewantara pendidikan
adalah tuntunan di dalam hidup tumbuhnya anak-anak Adapun tujuannya adalah
segala kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak itu sebagai manusia dan anggota
masyarakat mencapai keselamatan dan kebahagiaan setinggi-tingginya. Pengajaran Ki
Hajar juga menyarankan bahwa hanya dibangun 3 (tiga) sisi dinding saja dan ada
satu sisi yang terbuka. Konsep ini bukan main filosofinya dengan adanya satu
dinding yang terbuka, beliau hendak menegaskan bahwa tidak ada batas atau jarak
antara di dalam kelas dengan realitas di luar kelas. Banyak karya beliau yang
menjadi landasan rakyat Indonesia dalam mengembangkan Pendidikan yaitu Ing
Ngarso Sun tulodo, Ing Madyo Mangun
Karso, Tut Wuri Handayani. Di depan memberi teladan, ditengah memberi bimbingan,
dibelakang akan memberi dorongan. Lingkungan pendidikan menurut beliau ada tiga
yang dikenal dengan Tri Pusat Pendidikan lingkungan keluarga lingkungan sekolah
dan Lingkungan organisasi pemuda. Ki Hajar Dewantara senantiasa melihat manusia
lebih pada sisi psikologisnya memiliki daya jiwa yaitu Cipta Karsa dan karya
pengembangan manusia seutuhnya. Pengembangan yang terlalu menitikberatkan pada
satu daya saja akan menghasilkan ketidakutuhan perkembangan sebagai manusia. Beliau
mengatakan bahwa pendidikan yang menekankan pada aspek intelektual belaka hanya
akan menjauhkan peserta didik dari masyarakatnya, dan ternyata sampai sekarang
ini hanya menekankan pada pengembangan daya cipta saja, dan kurang
memperhatikan pengembangan olah rasa dan Karsa. Jika berlanjut terus jadikan
manusia kurang Humanis atau manusiawi. Kekhasan manusia adalah budayanya. Dalam
konsep pendidikan Ki Hajar Dewantara hal yang harus dibedakan yaitu Pengajaran
dan Pendidikan. Kedua hal ini harus bersinergi
satu sama lain. Adapun menurut beliau pengajaran bersifat memerdekakan manusia
dari aspek hidup lahiriah (kemiskinan dan kebodohan). Sedangkan pendidikan
mengarah pada memerdekakan manusia dari aspek hidup batin (otonomi berpikir dan
mengambil keputusan, martabat, mentalitas demokratik). Jadi jelaslah bahwa
manusia yang merdeka adalah manusia yang hidupnya secara lahir dan batin tidak
terganggu kepada orang lain, akan tetapi ia mampu bersandar dan berdiri di atas
kakinya sendiri. Artinya sistem pendidikan itu mampu menjadikan setiap individu
hidup mandiri dan berpikir sendiri. Sifat umum pendidikan yang beliau canangkan
adalah segala daya-upaya untuk memajukan bertumbuhnya budi pekerti (kekuatan
batin, karakter), pikiran, (intelect), dan tubuh anak.
Dari pernyataan ini disimpulkan bahwa kata
pendidikan lebih luas daripada pengajaran. Pendidikan mencakup manusia
seutuhnya, baik itu pendidikan intelektual, moralitas (nilai-nilai), dan budi
pekerti. Pendidikan menurut paham ini adalah pendidikan yang beralaskan
garis-hidup dari bangsanya dan ditujukan untuk keperluan prikehidupan yang
dapat mengangkat derajat negara dan rakyatnya, agar dapat bekerja bersama-sama
dengan bangsa lain demi kemuliaan segenap manusia di seluruh dunia. Dalam
pemikiran Ki Hajar Dewantara metode yang sesuai dengan sistem pendidikan ini
adalah sistem Among, yaitu metode pengajaran dan pendidikan yang
berdasarkan pada Asih, Asah dan Asuh. Metode ini menggunakan teknik pengajaran
meliputi hati dan panca indra. Output pendidikan yang dihasilkan adalah peserta
didik yang berkepribadian merdeka fisik dan mental serta menjadi anggota
masyarakat yang berguna dan bertanggung jawab atas kebahagiaan dirinya dan
kesejahteraan orang lain.
·
Relevansi pemikiran Ki Hajar
Dewantara dengan konteks pendidikan Indonesia saat ini
Pada jaman
kemajuan teknologi sekarang ini, sebagian besar manusia dipengaruhi perilakunya
oleh pesatnya perkembangan dan kecanggihan teknologi (teknologi informasi).
Banyak orang terbuai dengan teknologi yang canggih, sehingga melupakan
aspek-aspek lain dalam kehidupannya, seperti pentingnya membangun relasi dengan
orang lain, perlunya melakukan aktivitas sosial di dalam masyarakat, pentingnya
menghargai sesama lebih daripada apa yang berhasil dibuatnya, dan lain-lain. Manusia
tidak lagi bebas menumbuhkembangkan dirinya menjadi manusia seutuhnya dengan
segala aspeknya. Dalam pendidikan perlu ditanamkan sejak dini keberadaan
seorang pribadi yang humanis dan pentingnya pelestarian eksistensi manusia serta
membantu manusia lebih manusiawi. Sistem pendidikan yang dikembangkan oleh
pemerintah sekarang sudah menyesuaikan dengan filosofi Ki Hajar Dewantara ini terbukti
dari adanya pendidikan karakter, penilaian kognitif, afektif, dan konatif atau
psikomotorik yang diterjemahkan di dalam kurikulum 2013 sebagai penilaian
pengetahuan dan keterampilan.
·
Relevansi Pemikiran Ki Hajar
Dewantara dengan Konteks Pendidikan di Sekolah Saya
Setelah saya
memahami modul dan sumber-sumber lain terkait filosofi KHD, saya bisa menilai
bahwa di sekolah saya sudah mulai ditanamkan Pendidikan dengan filosofi ini, sedikit
demi sedikit. Ada 3 (tiga) hal yang menjadi fokus pendidikan dan pengajaran di
sekolah saya yang berbasis pada filosofi Ki Hajar Dewantara yaitu pertama, memanusiakan
manusia. Dalam sistem pengajaran kami mengedepankan pendidikan karakter sifat
humanisme bukan hanya sekedar menilai dari segi intelektualitasnya saja. Kedua,
Kami menyadari bahwa peserta didik juga berasal dari latar belakang ekonomi,
sosial dan budaya yang berbeda. Kami menyadari bahwa manusia akan benar-benar
menjadi manusia dalam budayanya sendiri. Manusia yang seutuhnya antara lain
sebagai manusia itu sendiri ditambah dengan budaya masyarakat yang
melingkupinya . Oleh karena itu kami
juga menyelipkan muatan lokal yang berbasis budaya di setiap pembelajaran baik
itu intrakurikuler, ekstrakurikuler maupun kokurikuler. Pembelajaran yang kami
lakukan, menyelipkan nilai-nilai kearifan lokal ada di daerah kami khususnya di
sekitar sekolah sehingga dapat dijadikan pegangan hidup dalam bermasyarakat.
Filosofi Ki Hajar yang ke-3 adalah kami menerapkan
figur keteladanan. Menurut Ki Hajar Dewantara makna sebagai guru adalah
mengajarkan kebaikan keluhuran dan keutamaan. Guru hendaknya menjadi model atau
figur yang dapat diteladani baru kemudian menjadi fasilitator atau pengajar.
Satu hal yang belum bisa kami terapkan di sekolah kami adalah merdeka
belajar karena Sebagian siswa kami masih belum mampu merefleksikan diri dan
mencari solusi sendiri jika dihadapkan pada permasalahan. Mereka masih ada yang
terpaku pada pola-pola pengajaran yang lama. Sehingga mereka harus senantiasa
dibimbing, diarahkan, dan dijelaskan dengan sejelas-jelasnya, sehingga dengan ini
para guru harus untuk menerapkan pola
lama yaitu ceramah. Namun secara berangsur-angsur saya di Pendidikan Guru Penggerak
ini akan mulai memahami serta mendalami bagaimana atau cara-cara pembelajaran
siswa dalam belajar mandiri baik secara fisik, mental, dan kerohanian. Namun
demikian, kemerdekaan pribadi ini tetap dibatasi oleh tata tertib yang
mendukung sikap-sikap keselarasan, kekeluargaan, musyawarah, toleransi,
kebersamaan, demokrasi, tanggung jawab dan disiplin.
·
Pelaksanaan Pemikiran Ki Hajar
Dewantara dan Kemerdekaan dalam Menjalankan Aktivitas sebagai Guru
Ada beberapa pemikiran Ki Hajar Dewantara
yang sudah saya laksanakan di sekolah. Yang pertama adalah saya memberikan
keteladanan kepada siswa di dalam hal peduli kepada sesama dan senantiasa
menanamkan sikap menghargai orang lain. Kedua, saya juga pernah melaksanakan
metode-metode pembelajaran dalam memantik kreativitas mereka dimana mereka memiliki
kemerdekaan di dalam merencanakan program terkait tugas mereka, menyusun jadwal
sendiri dan menentukan sendiri karya-karya yang mau mereka gunakan pembelajaran
sesuai dengan topik. Ketiga, saya senantiasa melaksanakan pemikiran Ki Hajar
Dewantara yaitu 3 dinding sehingga siswa tidak terbelenggu dengan pembelajaran
di dalam ruang kelas. Pembelajaran yang saya lakukan kontekstual dan memberi
ruang kepada mereka untuk mengkhayal, memikirkan sesuatu, mencari sumber
pembelajaran secara mandiri dan siswa bebas berekspresi sehingga siswa tidak
tertekan dalam pembelajaran. Dan harapan saya mereka bahagia di dalam belajar
bukan menjadi suatu beban.
Saya memiliki kemerdekaan dalam
menjalankan aktivitas sebagai guru. Selama ini khususnya di sekolah saya, para
guru didukung penuh oleh Kepala Sekolah untuk berkreativitas, menggunakan
sumber-sumber pembelajaran yang ada, meningkatkan inovasi dalam pembelajaran
tentunya yang bertujuan untuk perubahan ke arah perbaikan mutu Pendidikan di
sekolah kami. Walaupun terkadang ada beberapa hal di luar inovasi pembelajaran
yang wajib kami taati yaitu kebijakan-kebijakan
dari atasan. Namun sekali lagi, hal ini tidak
menghalangi kemerdekaan kami sebagai guru dalam beraktivitas di sekolah.
2.
Harapan dan Ekspektasi
·
Harapan yang Ingin Saya Lihat pada
Diri Saya sebagai Seorang Pendidik Setelah Mempelajari Modul Ini.
Setelah mempelajari modul ini, saya
berharap akan mampu mengejawantahkan pemikiran-pemikiran dan filosofi dari Ki
Hajar Dewantara karena melihat pendidikan saat ini sudah mulai pada titik jenuh
utamanya pada sistem pembelajaran daring dimana siswa sulit kami sentuh. Jarangnya
tatap muka secara langsung dengan siswa memicu kecilnya harapan saya untuk bisa
menjangkau siswa. Siswa kami sebagian memiliki keterbatasan dalam berkomunikasi
dikarenakan kuota dan kurangnya perhatian dari lingkungan primer mereka. Kurangnya
motivasi intrinsik dari siswa kami dalam pembelajaran juga disebabkan karena
mereka lebih terbuai pada gadget-gadget yang bersifat memanjakan penglihatan
mereka. Di samping itu saya juga ingin termotivasi untuk bisa membuat
program-program yang didasarkan pada filosofi Ki Hajar Dewantara namun tetap
berbasis pada kearifan local di daerah kami. Karena Saya menyadari akan
tantangan dan hambatan dalam melaksanakan program yang akan saya buat, namun tidak menyurutkan keinginan
saya karena di samping tantangan dan hambatan, kekuatan dan peluang pasti ada
baik itu dari sekolah maupun lingkungan sekitar. Untuk menerapkan filosofi Ki
Hajar Dewantara, hal-hal terkait peluang dan kekuatan ini akan betul-betul saya
kaji lebih dalam dengan harapan akan bisa saya manfaatkan dengan baik.
·
Harapan yang Ingin Saya Lihat pada
Murid -Murid Saya Setelah Mempelajari Modul Ini.
Setelah mempelajari modul ini dan setelah
saya mampu menerapkan yang diharapkan oleh modul ini saya berkeinginan melihat
siswa saya tidak tertekan lagi dalam belajar, mereka akan melakukan
pembelajaran secara mandiri dan tidak kalah penting adalah mereka bahagia di
dalam belajar bukan karena tekanan dari guru maupun orang tua. Jika mereka
bahagia dalam belajar dan termotivasi dari diri sendiri, maka otomatis apa yang
diharapkan dalam tujuan pembelajaran akan tercapai.
·
Kegiatan, Materi, Manfaat yang saya
Harapkan Ada dalam Modul Ini
a.
Kegiatan yang saya harapkan ada dalam
Modul ini adalah mengikutsertakan murid di dalam tugas-tugas sebagai umpan
balik dari proses pembelajaran yang sudah dilakukan oleh guru setelah mempelajari
dan menyimak modul ini. Dengan demikian, bisa dipantau langsung hasilnya. Namun
hal ini harus dengan system dan mekanisme yang ketat sehingga tidak ada
manipulasi hasil.
b.
Materi yang saya harapkan dalam Modul ini
adalah memperlihatkan contoh nyata dari tindakan Pemerintah, Dinas Provinsi,
Dinas Kabupaten dan khususnya sekolah-sekolah yang telah melaksanakan filosofi
KHD. Sehingga kami dapat menjadikan hal tersebut sebagai refrensi di dalam mengejawantahkan
pemikiran dari Ki Hajar Dewantara di dalam program-program sekolah walaupun
berbeda budaya.
c.
Manfaat yang saya harapkan dalam Modul ini
adalah setelah mempelajari modul ini saya mampu membuat program yang
berkesinambungan sesuai pemikiran KHD dan mampu mewujudkannya dalam tindakan
nyata dengan dukungan dari seluruh stake holder sekolah.
Comments
Post a Comment