1.4.a.10.2 Aksi Nyata - Budaya Positif - Forum Berbagi Aksi Nyata

 

1.4.a.10.2 Aksi Nyata - Budaya Positif - Forum Berbagi Aksi Nyata

GERAKAN LITERASI SEKOLAH BERBASIS KEARIFAN LOKAL

TRI HITA KARANA

Fasilitator : Ibu Sri Restu Wahyuningsih

PGP_ Angkatan 2_ Kabupaten Tabanan_Ni Made Risa Kusadi_1.4 Aksi Nyata

 

Latar Belakang

Sebagai pamong untuk menuntun murid dalam belajar, kita diharapkan dapat menjadi inisiator dalam mewujudkan budaya positif di sekolah yang berpihak pada murid. Agar lebih memahami urgensi budaya positif di sekolah, kita perlu memahami peran sekolah sebagai institusi pembentukan karakter. Ketika kita berbicara sekolah sebagai institusi pembentukan karakter, maka berbagai upaya akan dilaksanakan dengan kolaborasi semua pihak terkait. Tentu banyak tantangan yang akan dihadapi, terkadang ada rasa lelah yang menyelimuti pada saat niat baik dan semangat kita kurang mendapat perhatian. Namun disaat seperti itu, mari kita ingat kembali makna pendidikan sendiri dari Bapak Pendidikan kita, Ki Hajar Dewantara: “Adapun maksud pendidikan yaitu: menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak itu agar mereka sebagai manusia dan sebagai anggota masyarakat dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan setinggi-tingginya” (dikutip dari buku Ki Hajar Dewantara seri 1 pendidikan halaman 20). Kutipan tersebut mengisyaratkan kita sebagai guru untuk membangun komunitas di sekolah untuk menyiapkan murid di masa depan agar menjadi manusia berdaya tidak hanya untuk pribadi tapi berdampak pada masyarakat.

Ada dua permasalahan yang ingin penulis paparkan disini yaitu pertama, kurangnya daya literasi atau kemampuan dalam membaca dan menulis sehingga murid kurang mampu mengembangkan pengetahuan, keterampilan dan kemampuan yang bisa membuat mereka berpikir kritis. Ini juga berdampak pada kemampuan memecahkan masalah dalam berbagai konteks dan berkomunikasi efektif (Alberta, Merah Putih.com). Mengapa budaya literasi di sekolah sangat urgent untuk dilakukan? Ini tidak terlepas dari fakta bahwa hasil survey internasional (PIRLS 2011, PISA 2009 dan 2012) yang mengukur keterampilan membaca murid, Indonesia menduduki peringkat bawah. Sedangkan tuntutan keterampilan membaca pada abad 21 adalah kemampuan memahami informasi secara analitis, kritis, dan reflektif.

Kedua, melihat kenyataan bahwa banyak kasus kriminal yang dilakukan oleh anak-anak, menunjukkan bahwa telah terjadi distorsi nilai kemanusiaan dalam perkembangan peradaban bangsa Indonesia. Ini sangat menyedihkan di saat pemerintah sedang semangat untuk mewujudkan Profil Pelajar Pancasila dengan nilai-nilai budi pekerti yang luhur. Penulis melihat kaitan salah satu konsep dalam agama Hinda yaitu Tri Hita Karana yang sejalan dengan upaya ini. Tri Hita Karana berarti tiga penyebab terciptanya kebahagiaan. Falsafah ini memiliki konsep yang dapat melestarikan keanekaragaman budaya dan lingkungan di tengah hantaman globalisasi dan homogenisasi. Pada dasarnya hakikat ajaran Tri Hita Karana menekankan pada tiga hubungan manusia dalam kehidupan di dunia. Ketiga hubungan itu meliputi hubungan dengan sesama manusia (Pawongan), hubungan dengan alam sekitar (Palemahan), dan hubungan dengan Tuhan (Parahyangan). Setiap hubungan memiliki pedoman hidup menghargai sesama aspek sekelilingnya yang selaras dan seimbang.  Oleh karena itu sekolah sebagai sarana pendidikan formal diharapkan bisa  dijadikan tempat dalam membudayakan ketiga hubungan ini dalam ruang lingkup sekolah dengan harapan akan bisa dilaksanakan dalam kehidupan masyarakat. Disinilah peran guru menerapkan pelajaran berbasis literasi dan kearifan lokal Tri Hita Karana.

Penulis meyakini Pelajar Indonesia merupakan pelajar yang mandiri. Ia berinisiatif dan siap mempelajari hal-hal baru, serta gigih dalam mencapai tujuannya. Seperti dikutip pada materi di LMS PGP yang menyatakan :

“Pelajar Indonesia gemar dan mampu bernalar secara kritis dan kreatif. Ia aktif mencari cara untuk senantiasa meningkatkan kapasitas diri dan bersikap reflektif agar dapat terus mengembangkan diri dan berkontribusi kepada bangsa, negara, dan dunia. Tujuan utama dari pendidikan karakter juga bukan hanya mendorong murid untuk sukses secara moral maupun akademik di lingkungan sekolah, tetapi juga untuk menumbuhkan moral yang baik pada diri murid ketika sudah terlibat di dalam masyarakat”.

            Budaya positif merupakan salah satu kegiatan yang dapat menumbuhkan sikap dan prilaku yang baik bagi murid sehingga sangat perlu diterapkan sebagai wujud kepedulian terhadap sekolah dan masyarakat. Disinilah tugas dari institusi sekolah dan utamanya guru untuk mempersiapkan filter bagi anak-anak menghadapi tantangan global dan memberikan bekal kecakapan dalam berkomunikasi di masyarakat. Untuk itu penulis ingin lebih membangkitkan semangat membaca murid dengan memulai pembiasaan membaca di perpustakaan disertai kegiatan persembahyangan dan pembersihan di areal sekolah dalam rangka menciptakan kenyamanan nanti di dalam kegiatan inti yaitu literasi.

 

 

Deskripsi Aksi Nyata

Berangkat dari kegelisahan yang penulis dan orang tua rasakan tentang pemanfaatan waktu liburan panjang murid yang hanya dihabiskan di depan smartphone dan memainkan permainan yang kurang relevan dengan tujuan pendidikan maka disini saya membuat suatu program yang tentu saja sudah atas izin orang tua dan sepakat juga dengan murid mengenai alur aksi nyata ini. Semula penulis ragu untuk memulai karena kemungkinan tidak mendapat respon positif dari murid dan rekan-rekan guru, apalagi pada masa liburan panjang seperti sekarang. Namun diluar dugaan, anggota yang bergabung dan sudah bisa melaksanakan aksi nyata di hari pertama sudah berjumlah 27. Fakta ini semakin menambah motivasi penulis untuk melanjutkan rencana menjadi kenyataan. Ini merupakan bentuk tanggung jawab penulis sebagai seorang pendidik yang dituntut untuk selalu melakukan perubahan serta memunculkan ide dan gagasan yang baik guna membawa perubahan yang lebih baik. Maka dari itu penulis mulai bergerak membawa perubahan dalam pola prilaku anak mengenai pemanfaatan waktu liburan untuk hal-hal yang bermanfaat dengan harapan kebiasaan ini akan berlanjut menjadi budaya positif yang dilaksanakan secara konsisten.

Adapun kegiatan yang dilakukan untuk memulai budaya positif “Gerakan Literasi Sekolah Berbasis Kearifan Lokal Tri Hita Karana” adalah :

1.      Meminta izin kepada kepala sekolah tentang kegiatan “Gerakan Literasi Sekolah Berbasis Kearifan Lokal Tri Hita Karana” yang dilakukan selama liburan panjang dengan tetap menjalankan protokol kesehatan.

2.      Koordinasi dengan siswa yang memiliki keresahan yang sama tentang kemampuan literasinya

3.      Mengajak rekan-rekan sejawat untuk ikut dalam gerakan ini dan memotivasi agar masuk ke komunitas praktisi sehingga bisa berkolaborasi secara konsisten.

4.      Menyepakati jadwal dan rencana kegiatan

5.      Murid meminta izin kepada orang tua

6.      Membuat kesepakatan tentang hal-hal yang akan dilaksanakan saat kegiatan

7.      Membuat poster yang dipajang di perpustakaan tentang kesepakatan yang telah dibuat

8.      Mengontrol kemajuan pelaksanaan

9.      Melakukan evaluasi

10.  Refleksi

 

Kegiatan aksi nyata “GLS Berbasis Kearifan Lokal Tri Hita Karana” minggu pertama:

1.      Menerapkan protokol kesehatan (cek suhu, cuci tangan, jaga jarak, masker)

2.      Membersihkan lingkungan sekolah dan areal persembahyangan dalam kaitannya dengan pelaksanaan bagian kedua dari Tri Hita Karana yaitu Palemahan (menjaga hubungan yang selaras dan seimbang dengan lingkungan)

3.      Melakukan persembahyangan di sekolah dalam kaitannya dengan pelaksanaan bagian pertama dari Tri Hita Karana yaitu Parahyangan (menjaga hubungan yang selaras dan seimbang dengan Tuhan)

4.      Menerapkan budaya 5S2TM dalam kegiatan kaitannya dengan pelaksanaan bagian ketiga dari Tri Hita Karana yaitu Pawongan (menjaga hubungan yang selaras dan seimbang dengan orang lain/masyarakat khususnya di sekolah)

5.      Perjalanan dilanjutkan menuju ke ruang perpustakaan. Disini murid dan guru melakukan pembersihan demi menciptakan suasana belajar yang nyaman.

6.      Murid mendapat penjelasan sebelumnya tentang pentingnya kesepakatan kelas, literasi dan kearifan lokal Tri Hita Karana.

7.      Mendiskusikan kesepakatan kelas yang sebelumnya sudah dibuat oleh masing-masing murid dengan versi sendiri dengan tuntunan dari penulis

8.      Menerapkan disiplin positif dengan memberikan apresiasi dan penguatan serta konskuensi bagi yang melanggar serta menghindari hukuman fisik dan verbal.

9.      Salah satu murid merangkum kesepakatan kelas dengan menuliskan di kertas manila dan dipajang sebagai pengingat diri pada komitmen dan tanggung jawab.

10.  Murid memilih buku yang diminati dan mengerjakan tugas terkait pendalaman literasi

11.  Icebreaking

12.  Meminta umpan balik murid tentang kegiatan ini (refleksi)

13.  Berdoa setelah kegiatan selesai

 

Hasil dari Aksi Nyata yang Dilakukan

Setelah berjalan beberapa waktu maka sedikit demi sedikit mulailah terjadi perubahan. Grup belajar yang semula sepi menjadi ramai dengan semakin banyaknya murid yang bergabung. Disini penulis mengajak murid yang dengan sukarela bergabung untuk mengikuti aksi nyata ini, dan tentunya sudah mendapat izin orang tua. Terdapat perubahan pola prilaku dari anak-anak yang semula tidak percaya diri, menjadi bertambah motivasinya setelah mendapat tuntunan dari teman-teman, kakak kelas dan penulis sendiri. Berbagai pengetahuan mereka dapatkan mulai dari filosofi Tri Hita Karana (menjaga keselarasan dan keseimbangan hubungan dengan Tuhan, orang lain/masyarakat dan lingkungan), pengetahuan tentang literasi, 5S2TM, aplikasi canva, share it, dll. Disini mereka dididik untuk saling berbagi dan menghargai sesama. Selain itu dari informasi murid yang telah mengikuti aksi nyata, maka semakin banyak murid yang bergabung melalui link WAG. Kegiatan ini akan rutin dilaksanakan setiap minggu untuk mengisi liburan murid dengan tetap melaksanakan protocol kesehatan yang ketat. Harapan penulis, kegiatan ini dilanjutkan sebagai kegiatan sehari-hari di rumah dan di sekolah khususnya. Penulis optimis, melihat anak-anak begitu antusias memperlihatkan buku yang dipilih.

 

Pembelajaran yang didapat dari pelaksanaan

Pada kegiatan ini, penulis memiliki kendala yaitu masih adanya sikap tidak peduli dari teman sejawat walaupun sudah diminta kesediaannya berpartisipasi, sehingga saya sedikit merasa kerepotan dalam mengakomodir seluruh kegiatan dan siswa. Namun ini tidak menyurutkan langkah penulis untuk tetap bergerak, semoga kegiatan ini berdampak baik terhadap murid, sehingga rekan-rekan sejawat mulai tertarik dengan pembelajaran model ini. Adapun hal-hal yang belum sesuai dengan rancangan aksi nyata yaitu waktu yang tidak cukup bagi murid untuk membaca di perpustakaan sehingga buku harus dipinjam dan dibawa pulang. Penyebabnya adalah waktu untuk kegiatan pembersihan melebihi rencana. Murid belum sempat mempresentasikan isi buku yang dibacanya. Ada beberapa siswa yang keluar grup karena miss komunikasi dengan rekan-rekannya. Namun dibalik kegagalan, ada satu keberhasilan yaitu penulis bisa menjalin kedekatan dengan murid yang baru pertama kali dilihat secara langsung. Dan terjalin pula hubungan kerjasama dan saling berbagi antara kakak kelas dengan adik kelas. Bahkan banyak ide-ide cemerlang dari murid yang tertuang di grup ini. Salah satunya adalah membuat Instagram terkait program GLS berbasis kearifan lokal Tri Hita Karana dan murid mengupload kegiatan-kegiatannya di ig. dengan nama akun

Pembelajaran baru yang penulis juga berikan ke murid adalah nilai dari disiplin positif dimana murid didorong untuk memiliki kesadaran sendiri dalam melaksanakan disiplin. Pola pembelajaran yang lama diperbaiki dengan pola baru yang menjauhkan murid dari kekerasan fisik dan verbal yang akan mempengaruhi mental mereka. Juga menjauhkan murid dari kebiasaan selalu memberikan hukuman dan hadiah di setiap kegiatan. Diganti dengan apreasiasi, penguatan positif dan konskuensi. Dari sini penulis belajar dari pengalaman masa lalu bahwa selalu memberikan poin dan sanksi kepada murid di setiap kegiatan adalah tidak efektif karena mereka hanya termotivasi secara ekstrinsik, sehingga kesadaran diri belum tumbuh secara optimal. Sehingga nanti disaat reward sudah tidak ada, maka kebiasaan-kebiasaan baik menjadi terabaikan. Pembelajaran dengan menerapkan disiplin positif dan memposisikan diri sebagai manajer, sangat menginspirasi penulis di dalam perbaikan pembelajaran di masa mendatang. Apalagi dengan kesepakatan kelas yang ada dan terjalin hubungan baik dengan guru, tidak mustahil harapan penulis khususnya dan sekolah pada umumnya tentang murid dengan profil Pancasila dapat terwujud. Tentu usaha ini tidak bisa diwujudkan tanpa kolaborasi dari semua pihak. Suatu pekerjaan rumah bagi penulis untuk mulai mengimplementasikan inkuiri apresiatif dengan tahapan BAGJA di dalam menggali kekuatan-kekuatan asset yang ada di sekolah dan bisa merangkul rekan-rekan sejawat dalam komunitas praktisi.

 

Rencana perbaikan untuk pelaksanaan di masa mendatang

Dari kegiatan ini, penulis melakukan beberapa perbaikan terkait budaya positif GLS berbasis kearifan lokal Tri Hita Karana. Ini dilakukan sebagai upaya menyempurnakan kegiatan. Penulis secara konsisten melakukan evaluasi seminggu sekali untuk melihat kelemahan dan kelebihan program ini. Untuk ke depan, penulis ingin mengelola waktu dengan lebih ketat agar tercapai tujuan sampai pada presentasi murid setelah kegiatan membaca. Berusaha lebih keras lagi untuk mencari follower pertama dengan pendekatan-pendekatan yang strategis. Dan menjaga agar komunikasi murid-murid di grup tetap pada koridor 5S2TM.

 

Dokumentasi proses dan hasil pelaksanaan




KESEPAKATAN KELAS






 


 

 

 

 

 

 




 

 

 

 

Comments

Popular posts from this blog

Demontrasi kontekstual modul 1.1

KELAS 9 PEMBELAJARAN 11. MENYIKAPI ARUS GLOBALISASI