AKSI NYATA PEMIKIRAN KI HAJAR DEWANTARA
GURU, JADILAH PEMANTIK TRANSFORMASI PENDIDIKAN
MELALUI
AKSI NYATA PEMIKIRAN KI HAJAR DEWANTARA
Di saat pandemi melanda
Indonesia, persoalan pendidikan semakin dirasakan oleh masyarakat, terutama
mereka yang memiliki anak usia sekolah di pendidikan dasar dan menengah.
Keluhan, harapan sekolah biar dibuka untuk tatap muka bagi siswa semakin santer
terdengar. Disamping karena kerinduan anak-anak bertemu dengan temannya, juga
karena kebingungan orang tua menjadi pengganti guru di rumah sangat berat
dirasakan. Demikian halnya guru, merasa terbebani secara phisik dan moral dalam
mencapai target pembelajaran yang diharapkan. Peluang inilah yang harus
dicermati dan ditangkap oleh para guru. disamping dia menjadi tantangan, namun
sekaligus sebagai kesempatan untuk mengembangkan kompetensi diri, ditengah
kebingungan orang tua menjadi “guru” di rumah.
Disini para guru
termasuk penulis sendiri yang berprofesi sebagai guru telah berupaya semaksimal
mungkin untuk memantik motivasi siswa dalam belajar. Kegiatan setiap hari
dilaksanakan tugas seperti biasa di masa pandemic, yaitu masuk ke WA grup anak
dan mengucapkan 3S (Salam, Senyum, Sapa) berupa kata-kata serta emoji. Namun
seiring waktu setahun masa pandemi berjalan, guru dan siswa merasakan ada di
titik jenuh dalam pembelajaran daring ini. Pemberian tugas kepada siswa,
membaca buku, menyimak video, kemudian siswa menjawab, adalah hal rutin
dilaksanakan, namun ternyata dirasakan oleh siswa sebagai sesuatu yang
membosankan dan setelah sekian lama tidak dikerjakan akhirnya tugas-tugas
inipun menjadi beban. Ini didukung oleh pengakuan anak-anak saat wawancara
secara virtual. Mereka selalu menginginkan hal-hal baru yang menantang di
setiap pembelajarannya. Anak-anak yang semula respon di satu kelas 80% sampai
90% kini hanya setengahnya. Sungguh menyedihkan disaat guru ditantang
menyiapkan generasi emas dalam menghadapi revolusi 4.0. Agar bisa menjadi
bangsa Indonesia yang maju, siswa dan guru harus mampu beradaptasi dengan
segala perubahan yang ada. SDM yang berkualitas menjadi sesuatu hal yang
penting dan menjadi perhatian bersama dalam upaya menciptakan NKRI ini menjadi
bangsa yang maju, karena kreativitas dan inovasi menjadi faktor penentu suatu
keberhasilan di era 4.0 terlebih saat pandemi COVID-19. Sangat disayangkan,
apabila generasi milenial jika hanya bertindak sebagai pengguna yang pasif.
Selain menjadi pengguna, generasi milenial harus mampu menjadi pemimpin dalam
menghasilkan kreativitas dan inovasi, memiliki wawasan yang lebih luas dalam perkembangan
teknologi, dan mengasah kemampuannya dalam menyosong era 4.0 ini. Dengan
berpikir kritis dan tidak terjerumus ke dalam hal yang negatif dapat dilakukan
siswa untuk ikut berperan dalam era revolusi industri 4.0 ini. Namun
kenyataannya Sebagian besar generasi kita sekarang lebih focus pada
konten-konten di smartphone mereka seperti game, Tik Tok dan
konten-konten lain yang tidak bisa dikontrol oleh orang tua. Apa yang terjadi
di sini ? Bagaimana menyentuh anak-anak di masa daring ini? Ini adalah tantangan
seluruh elemen masyarakat khususnya para guru untuk menarik perhatian dan
memotivasi siswa dengan menerapkan pembelajaran-pembelajaran dengan metode baru
yang menantang dan memancing rasa penasaran mereka di setiap pertemuan.
Disaat dilema datang,
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan menawarkan sebuah program untuk menjawab
tantangan ini. Guru-guru menyambut dengan antusias dan berlomba-lomba agar bisa
lolos seleksi. Program Guru Penggerak diharapkan menjadi jembatan untuk
menciptakan figur figur pendidik yang mampu merealisasikan pemikiran-pemikiran
Ki Hajar Dewantara agar tercapai Profil Pelajar Pancasila yang beriman dan
bertakwa, berpikir kritis, mandiri, gotong royong, kreatif dan berkebhinekaan
global. Di program ini guru ditempa dan banyak merefleksi diri tentang apa yang
telah dilakukan dan perubahan apa yang akan dilakukan.
Untuk bisa mewujudkan pemikiran Ki
Hajar Dewantara ke dalam konteks pembelajaran maka bisa dimulai dengan
membentuk kelompok-kelompok kecil di WAG dan mulai mendekati mereka dengan
pertemuan secara virtual. Pendidikan dengan cara ini bukan tanpa hambatan. Di
desa desa pendukung sekolah tempat saya bertugas, merupakan desa-desa yang
mayoritas penduduknya bekerja di sektor pertanian dan peternakan sehingga
otomatis Fokus dari orang tua adalah mencari nafkah dan pemenuhan kebutuhan
primer. Sehingga kebutuhan pendidikan menjadi nomor dua. Ini tentu
berdampak pada semangat belajar anak. Namun Calon Guru Penggerak (CGP)
disini termasuk penulis, tidak menyerah dan memulai pembelajaran seperti yang didapatkan
di Learn Manajemen System (LMS) Pendidikan Guru Penggerak. Disini CGP di diberi
memberi stimulus2 dan petunjuk tentang materi yang akan dipelajari. Dan hal ini
diadaptasi juga oleh CGP. Siswa dibiarkan dulu berangan-angan melalui
petunjuk-petunjuk dari materi yang akan mereka dapatkan. Selanjutnya
mereka bisa mencari sumber pembelajaran tidak terbatas hanya pada buku dan di
internet, tapi juga di lingkungan sekitarnya. Tidak lupa di setiap pertemuan, CGP
membiasakan untuk berdoa terlebih dahulu kemudian membuat kesepakatan kelas
diantaranya peserta meeting tidak boleh mematikan kamera selama
pembelajaran berlangsung, menghargai pendapat orang lain dengan mematikan speaker
pada saat teman yang lain sedang mengemukakan pendapat, disiplin waktu dan
boleh diingatkan apabila ada peserta yang melanggar kesepakatan kelas.
Pembelajaran pun berlangsung dengan antusias, apalagi
CGP menyelipkan permainan-permainan kecil di dalamnya yang menantang siswa
menunjukkan kreativitas dan pengetahuannya, seperti yang diamanahkan Ki Hajar
Dewantara yaitu siswa bahagia dalam belajar dalam suasana merdeka belajar.
Sesuai dengan amanat Ki Hajar Dewantara, bahwa: “Di mana ada kebebasan harus
ada disiplin yang kuat sungguhpun disiplin itu bersifat self disiplin
yaitu kita sendiri mewajibkan dengan sekeras-kerasnya dan peraturan yang
sedemikian itu harus ada dalam suasana yang merdeka.” Maka dari itu diingatkan
jika dalam pertemuan baik luring secara daring ada yang melanggar kesepakatan
kelas maka peraturan tetap akan ditegakkan.
Seperti yang diamanatkan oleh pemerintah,
bahwa merdeka belajar menempatkan rekan belajar yaitu guru, siswa dan kepala
sekolah dalam sebuah institusi sekolah. Tokoh utama dalam proses
pengajaran dan pembelajaran diberikan otoritas yang luas sehingga proses ini
fokus pada peningkatan kualitas belajar siswa Terutama dalam pengembangan
karakter siswa literasi dan numerasi. CGP tidak henti “berselancar” di dunia
maya untuk mengenal konten-konten terkait pembelajaran yang menarik perhatian
siswa. Tidak cukup
dengan itu CGP perlahan-lahan mengubah pandangannya tentang 1). cara
pandang terhadap pelayanan ke siswa dalam konteks “menghamba” kepada siswa
yaitu berorientasi penuh kepada mereka. 2). Merubah mekanisme pembelajaran
dalam konteks budi pekerti yang holistik dan seimbang antara olah cipta, olah
rasa, olah karsa dan olah raga agar terwujud insan- insan yang penuh
kebijaksanaan, 3). Merubah cara pandang guru terkait kodrat alam dan kodrat
zaman. Guru sebagai pendidik hanya menuntun kodrat tersebut agar mereka
memiliki arah pegangan dan terhindar dari pengaruh-pengaruh yang akan
membahayakan dirinya. Memberikan suasana “Bahagia” dalam “kemerdekaan belajar”
adalah penting untuk dikaji lebih dalam sehingga dapat dituangkan dalam proses
pembelajaran.
Dalam pemikiran KHD selanjutnya yaitu konteks
TRIKON ada 1). KONTINUITAS yaitu
pemikiran KHD yang mengamanatkan kita agar melakukan dialog kritis
dengan sejarah, kita tidak boleh lupa dengan akar akar budaya yang kita miliki.
Walaupun perubahan menjawab kodrat zaman namun nilai esensi dari masyarakat hrs
tetap dijaga, demikian juga dengan proses pembelajaran di kelas, walaupun terus
berkembang mengikuti zaman namun nilai esensi local sosial budaya harus
dijaga, disini diperlukan keahlian dari
seorang guru untuk memahami budaya-budaya positif dari daerah-daerah disekitar
lingkungan sekolah dan menyelipkan sentuhan budaya ke dalam pembelajarannya
serta menginovasikan agar siap menjemput peradaban. 2). KONVERGENSI yaitu
perubahan-perubahan yang dilakukan harus memperkuat nilai kemanusiaan.
Pendidikan harus memanusiakan manusia dengan memperkuat nilai kemanusiaan.
Adanya berbagai macam tindak kekerasan yang dilakukan anak adalah bukti bahwa
nilai-nilai kemanusiaan pada diri anak telah mengalami degradasi. Untuk
itu sentuhan-sentuhan humanis dari seorang guru sangat diperlukan di dalam
menuntun anak. Guru dalam hal ini bisa menggunakan rubrik-rubrik penilaian yang
telah diketahui oleh siswa sehingga mereka mengetahui dirinya sedang dinilai.
Dengan pembiasaan ini diharapkan akan terbentuk karakter yang diharapkan 3).
KONSENTRIS adalah pendidikan ini harus menghargai keragaman dan memerdekakan pembelajar.
Disini anak datang dari beragam lingkungan yang tentu saja memerlukan
penanganan yang berbeda-beda. Sikap saling menghargai dapat dilakukan dengan
memberi tauladan pada anak-anak sesuai prinsip KHD yaitu “Ing Ngarso Sung
Tulodo”.
CGP juga menerapkan pemikiran Ki Hajar Dewantara
tentang Tri Pusat Pendidikan. Maka selain lingkungan pendidikan atau
sekolah yang digeluti selama ini, CGP juga mulai fokus pada lingkungan
keluarga sebagai lingkungan primer yang pertama kali menyentuh karakter anak. CGP
komunikasi dengan orang tua siswa terkait kendala-kendala yang dialami masa
pembelajaran daring. Demikian juga di lingkungan organisasi pemuda, tidak bisa
dipungkiri bahwa pergaulan anak dengan lingkungan sosialnya akan sangat
berpengaruh terhadap perkembangan budi pekerti anak . Oleh sebab itu dengan ijin
kepala sekolah, akan diupayakan pemberdayaan tokoh-tokoh pemuda di organisasi
di sekitar anak didik ,dengan cara mengajak mereka untuk menjadi tauladan bagi
rekan-rekannya. Bersamaan nanti dengan komite sekolah, tokoh-tokoh pemuda
ini juga akan diajak untuk mengenal sistem pendidikan di sekolah dan
nilai-nilai essensial yang ada di pendidikan di sekolah.
Intisari Filosofi Ki Hajar Dewantara yang menjadi
inspirasi CGP dapat saya uraikan ke
dalam skema/bagan sebagai berikut :
Untuk Aksi Nyata Pemikiran Ki Hajar Dewantara yang saya lakukan dapat
disimak di link youtube berikut ini. Semoga dapat menginspirasi.
Comments
Post a Comment