Tugas 1.2.a.6. REFLEKSI TERBIMBING MODUL 1.2

 

Tugas 1.2.a.6. REFLEKSI TERBIMBING MODUL 1.2

1.       Jika menilik dari awal pembentukan nilai diri, saya semula hanyalah anak yang menggantungkan semua cita-cita, tujuan hidup, dan harapan sepenuhnya kepada orang tua. Beliaulah yang berhak mengatur kehidupan saya sehingga saya pun kurang mengetahui jati diri saya. Jadi nilai diri saya tergantung pada orang tua. Saya merasa bangga jika orang tua saya bangga, saya sedih jika orang tua sedih.

 

Setelah saya memahami kecanggihan otak yang telah dipaparkan di LMS, maka saya menyadari bahwa semula otak primata dan otak manusia yang tergabung ke dalam otak berpikir saya adalah pasif dan sangat tergantung pada orang tua. Yang dominan adalah system limbik sehingga saya senantiasa harus mengkonversi energi untuk menahan segala luka dan derita, dan system batang otak yang menganggap semua hal adalah ancaman, jadi waktu itu saya terus merasa terancam. Ini juga terkait dengan situasi di keluarga besar yang kurang kondusif. Hal ini menyebabkan saya menjadi kurang memaksimalkan kerja otak berpikir.

 

Kemudian, bagaimana saya tergerak? Ada beberapa factor disini yang membuat saya tergerak yaitu pengalaman hidup yang beragam dan bertitik tolak dari kehilangan figure seorang ibu, disinilah saya mulai memahami bahwa hidup tidak semudah yang dibayangkan, dalam hidup saya harus berjuang dan berpikir. Mulai sejak itulah sedikit demi sedikit saya mengembangkan otak berpikir dan terus berjuang. Bersyukur dengan pendidikan saya memahami nilai-nilai kebaikan dalam diri saya sendiri, kemudian mempercayainya sebagai bagian yang tak terpisahkan dari siapa saya, hingga kemudian saya terus menghidupinya. Terimakasih Guruku terutama guru Bahasa Inggris SMP yang dengan karakter yang baik telah melestarikan nilai-nilai kebaikan di hati saya. Terima kasih untuk semua elemen yang sudah mendukung saya, baik itu yang telah memberi stigma negatif (saya jadikan motivasi) maupun tanggapan positif (saya jadikan umpan balik untuk terus berkembang) dari rekan-rekan kerja dan keluarga saya.

 

 

 

 

2.       Setelah mengetahui nilai dari guru penggerak, saya merasakan saya harus merubah pola-pola berpikir saya yang lama yang tidak sesuai dengan perkembangan zaman. Pertama yang saya lakukan adalah merefleksi diri karena berhadapan dengan fakta bahwa pembelajaran sudah semakin pada titik jenuh yang dirasakan oleh siswa. Disini saya melakukan evaluasi dan analisis dari segala permasalahan yang terjadi dengan berbagai teknik. Setelah itu saya melakukan perbaikan dengan terlebih dahulu mengikuti secara mandiri pelatihan-pelatihan pengembangan diri yang ada. Inovasi saya ciptakan dari hasil setelah pengembangan diri, kemudian berkolaborasi dengan teman sejawat untuk mengaplikasikan perubahan ini. Mulai merancang pembelajaran yang lebih berpihak pada murid dengan mengutamakan kenyamanan mereka. Disini saya menggunakan perpaduan berbagai metode, dan merdeka belajar telah menginspirasi saya untuk memadukan alur MERDEKA BELAJAR dengan PBL atau dengan PjBL. Dengan contoh-contoh konten interaktif yang ditunjukkan Ibu Fasilitator, saya semakin tergerak untuk melakukan transformasi ini.

 

 

 

 

3.       Nilai guru penggerak yang saya telah miliki dan dominan saya rasakan selama ini adalah reflektif, mandiri, kolaboratif dan berpihak pada murid. Untuk nilai inovatif, saya masih dalam proses belajar menemukan ide-ide baru untuk menunjang nilai guru penggerak yang telah ada pada diri saya

 

4.       Dari nilai-nilai guru penggerak yang sudah saya pelajari, saya ingin menguatkan nilai inovatif, karena saya masih merasa belum maksimal dalam menemukan dan mencari gagasan baru, masih banyak pengetahuan yang harus saya pelajari, namun saya meyakini dengan pelatihan di GP saya akan lebih bisa mengekspresikan diri dengan bercermin pada sumber-sumber pembelajaran, saran fasilitator, dan umpan balik dari rekan-rekan GP.

 

5.       Setelah mengetahui peran guru penggerak, saya merasakan harus memaksimalkan peran yang sudah saya jalani selama ini yaitu menjadi pemimpin pembelajaran, menjadi coach bagi guru lain, mendorong kolaborasi dengan guru lain, dan mewujudkan kepemimpinan murid. Sedangkan untuk peran menggerakkan komunitas praktisi di luar sekolah saya merasa masih harus banyak yang perlu dipelajari.

 

6.       Yang saya lakukan untuk menguatkan nilai dan peran saya sebagai guru penggerak adalah

a.       Strategi penguatan dalam menjadi coach bagi guru lain dalam kaitannya dengan nilai mandiri:

·         Aktif mengikuti webinar daring,ZENIUS, KELAS DAHSYAT, PGRI, SETI, GURU.ID dll, secara mandiri untuk mengembangkan kompetensi diri sebagai guru.

·         Melakukan literasi digital untuk mengupgrade wawasan.

·         Secara mandiri mengembangkan diri dalam pembelajaran di kelas yang diampu, guna menemukan metode pembelajaran yang efektif pada masa pandemi.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

b.       Strategi penguatan peran mendorong kolaborasi dengan guru lain  dalam kaitannya dengan nilai kolaboratif:

·         Refleksi diri

·         Menyatukan  persepsi

·         Komunikasi positif

·         Sikap terbuka

 

c.       Strategi Penguatan peran penggerak komunitas praktek dalam kaitannya dengan nilai refleksi

·         Melihat permasalahan yang ada

·         Melakukan evaluasi

·         Melakukan perbaikan

·         Evaluasi lagi

·         Rekontruksi ulang

Jika dikaitkan dengan nilai mandiri dan inovasi, adalah bahwa saya harus memiliki inisiatif sendiri mengembangkan diri dan menemukan ide-ide baru untuk bisa berbagi dengan komunitas sejawat.

d.       Strategi Penguatan peran menjadi pemimpin belajar dalam kaitannya dengan nilai berpihak pada murid.

·         Peran ini terkait dengan mewujudkan wellbeing dalam ekosistem pembelajaran. Maka rantai dan jaring yang terhubung di ekosistem itu harus memberi bisa memeberi kenyamanan pada siswa. Sebagai pusat mata rantai ekosistem (matahari), saya sebagai guru memulai dari diri untuk menciptakan suasana nyaman itu, yaitu dengan memperlihatkan sikap terbuka dan ramah pada siswa. Menerima kritik, saran, saling berbagi, tidak segan-segan mengakui kelebihan murid dan menyebut nama murid, karena mereka akan merasa lebih dihargai

 

e.       Strategi Penguatan peran mewujudkan kepemimpinan murid dalam kaitannya dengan nilai inovatif

·         Merefleksi diri dengan memaknai setiap kegagalan sebelumnya dan merekonstruksi ulang pembelajaran berikutnya untuk memotivasi siswa dan mampu mandiri dalam belajar

·         Mencari solusi yang terkadang dianggap aneh . Jadi saya menggunakan “metode ala saya” disini dengan memadukan metode-metode pembelajaran yang saya sesuaikan dengan kondisi siswa dan kelas.

·         Mencari ide dari lingkungan sekitar siswa baik sosial maupun lingkungan fisik agar siswa terbiasa menyentuh lingkungannya karena mapel yang saya ajarkan pada intinya bertujuan agar siswa mampu berpikir kritis dan mandiri dalam  menyelesaikan masalah pada kehidupan di masa depan

·         Menanamkan karakter peduli sosial dan peduli lingkungan agar saat murid menjadi pemimpin, mereka dapat menjadi pemimpin yang amanah.

 

 

 

 

7.       Yang akan menghambat saya dalam memperkuat peran dan nilai Guru Penggerak dalam diri saya adalah kondisi alam seperti sekarang dimana saya menginginkan pertemuan langsung dengan murid terkait aksi nyata merdeka belajar, namun beberapa murid terhalang izin orang tua. Namun saya sangat menghormati keputusan orang tua. Dan saya harus mencari siasat baru dalam mengelola pembelajaran. Semoga pandemic ini segera berlalu sehingga peran saya bisa dirasakan secara langsung oleh murid dan orang tua. SEMOGA BISA TERWUJUD……

 

 

 

Comments

Popular posts from this blog

Demontrasi kontekstual modul 1.1

KELAS 9 PEMBELAJARAN 11. MENYIKAPI ARUS GLOBALISASI