Tugas 2.1.a.9. Koneksi Antar Materi - Modul 2.1-Ni Made Risa Kusadi-CGP Kab.Tabanan

Tugas 2.1.a.9. Koneksi Antar Materi - Modul 2.1

 

Fasilitator               : Ibu Sri Restu Wahyuningsih

CGP Kab. Tabanan   : Ni Made Risa Kusadi

“Semua pengetahuan terhubung ke semua pengetahuan lainnya. Yang menyenangkan adalah membuat koneksinya.” (Arthur Aufderheide)


 

Kondisi ini pasti tidak asing lagi bagi para pendidik. Setiap murid memiliki karakteristik sendiri yang tidak terlepas dari pengaruh lingkungan primer dan sekundernya masing-masing. Adalah sebuah tantangan bagi guru untuk bisa menarik perhatian mereka, mengerti kebutuhan belajarnya, dan mampu mengakomodasi dengan berbagai teknik mengajar. Tidak mudah memang, namun inilah kondisi yang harus dihadapi jika kita menginginkan tujuan pembelajaran dapat dicerna oleh seluruh murid. Diferensiasi tidak berarti bahwa guru harus dapat memenuhi kebutuhan semua individu setiap saat atau setiap waktu. Namun, guru memang diharapkan dapat menggunakan berbagai pendekatan belajar sehingga sebagian besar murid menemukan pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan mereka.

Kita tidak bisa memenuhi semua kebutuhan belajar mereka jika mereka juga tidak ada motivasi, namun kita tetap berupaya untuk memberikan pembelajaran yang menghargai keberagaman ini sehingga menjadi pembelajaran yang bermakna. Untuk mewujudkan hal tersebut, maka pembelajaran berdiferensiasi adalah jawabannya.

Dalam Tomlinson (2001:1), pada pembelajaran diferensiasi berarti mencampurkan semua perbedaan untuk mendapatkan suatu informasi, membuat ide dan mengekspresikan apa yang mereka pelajari. Dengan kata lain bahwa pembelajaran diferensiasi adalah menciptakan suatu kelas yang beragam dengan memberikan kesempatan dalam meraih konten, memproses suatu ide dan meningkatkan hasil setiap murid sesuai kemampuannya, sehingga murid-murid akan bisa lebih belajar dengan efektif.

Pembelajaran berdiferensiasi juga merupakan serangkaian keputusan masuk akal (common sense) yang dibuat oleh guru yang berorientasi kepada kebutuhan murid. Pembelajaran berdiferensiasi pada hakikatnya pembelajaran yang memandang bahwa siswa itu berbeda dan dinamis. Karena itu, sekolah khususnya guru harus memiliki perencanaan tentang pembelajaran berdiferensiasi. Dari sekolah, hal yang harus dilakukan adalah mengkaji kurikulum saat ini yang sesuai dengan kekuatan dan kelemahan siswa, merancang perencanaan dan strategi sekolah yang sesuai dengan kurikulum dan metode pembelajaran yang bisa digunakan untuk memenuhi kebutuhan siswa, menjelaskan bentuk dukungan guru dalam memenuhi kebutuhan siswa, mengkaji dan menilai pencapaian rencana sekolah secara berkala. Untuk guru ada enam (6) elemen yang berkontribusi terhadap belajar dan pembelajaran

 


Keenam elemen ini akan dapat memberikan kontribusi jika guru dapat menerapkan pembelajaran berdiferensiasi secara efektif.

Bagaimana pembelajaran berdiferensiasi dapat memenuhi kebutuhan belajar murid dan membantu mencapai hasil belajar yang optimal.? Ada strategi dan teknik dalam pembelajaran ini. Namun sebelumnya guru harus mampu mengambil keputusan-keputusan yang terkait dengan penciptaan lingkungan belajar yang “mengundang’ murid untuk belajar untuk mencapai tujuan belajar yang tinggi, kurikulum dengan tujuan pembelajaran yang didefinisikan secara jelas, penilaian berkelanjutan, refleksi guru (bagaimana guru menanggapi atau merespon kebutuhan belajar muridnya, bagaimana guru akan menyesuaikan rencana pembelajaran untuk memenuhi kebutuhan belajar murid tersebut.

Setelah mendalami tentang pembelajaran ini, maka tujuan pembelajaran berdiferensiasi dapat dimaknai sebagai berikut :

·         Siswa memaksimumkan dari "posisi belajar" mereka saat ini. Tujuan untuk guru adalah semakin memahami tentang posisi belajar tersebut sehingga pembelajaran sesuai dengan kebutuhan peserta didik.

·         Perubahan mindset guru tentang pengetahuan yang bergerak bukan ke arah melihat diri sendiri sebagai penyelenggara kesempatan belajar, namun guru lebih fokus pada pemahaman kebutuhan belajar siswa mereka.

·         Diferensiasi menghendaki seorang guru untuk menyadari bahwa ruang kelas harus menjadi wellbeing ekosistem belajar, dan juga untuk mengingat setiap hari bahwa tidak ada praktik yang benar-benar praktik terbaik kecuali jika itu berhasil untuk setiap individu dan menghargai setiap perkembangan kecil yang dicapai murid.

 

Untuk mewujudkan hal tersebut maka langkah-langkah yang dapat diterapkan dalam pembelajaran  berdiferensiasi adalah:

1.   Menetapkan tujuan pembelajaran (pahami kompetensi dasar atau standar yang akan dicapai, tentukan tujuan pembelajaran).

2.    Melakukan pemetaan kebutuhan siswa (pre tes minat, profil belajar dan kesiapan belajar)

3.    Menentukan strategi dan alat penilaian yang digunakan

4.    Menentukan kegiatan pembelajaran dengan diferensiasi Konten, Proses dan Produk.

·         Diferensiasi konten (dengan bantuan "the equalizer" untuk mengukur tingkat kesiapan, berdasarkan minat dengan berbagai topik terkait minat, profil dengan memastikan murid dapat mengakses informasi sesuai gaya belajarnya)

·         Diferensiasi proses (menyusun skenario pembelajaran : kegiatan berjenjang, pertanyaan pemandu, tantangan di sudut minat, membuat agenda individual , kelompok fleksibel)

·         Diferensiasi produk (memberikan tantangan bagi murid dan pilihan dalam mengekspresikan)

 

Penerapan Pembelajaran Berdiferensiasi di kelas

        Murid dengan minat yang berbeda dengan gaya belajar yang berbeda serta dengan kemampuan yang berbeda akan dapat dengan nyaman belajar sesuai dengan posisi mereka. Hal ini akan berkorelasi positif terhadap hasil belajarnya ( diperoleh hasil belajar optimal)

    Pada pelaksanaan model berdiferensiasi ini diperlukan pemahaman akan teori pembelajaran yang matang, kreatifitas guru dalam merancang aktivitas yang bisa mengakomodasi keberagaman siswa di kelas sekaligus bagi anak berkebutuhan khusus, pantang menyerah, keteladanan guru bersikap dan bagaimana cara berkomunikasi terhadap siswa-siswa di kelas. Model pembelajaran ini bisa dilakukan dengan dengan lebih baik saat pembelajaran tatap muka. Guru bisa mengatur kelompok independent dengan beberapa siswa yang masih pada tahap instructional (perlu bimbingan), sehingga teman yang sudah mandiri akan membantu teman yang memerlukan bimbingan. Guru bisa berfokus pada siswa yang masih memerlukan penjelasan ulang. Pada pemetaan berdasarkan minat, guru bisa memberikan penugasan dan memfasilitasi murid mengerjakan tugas dan mengaitkan dengan bakat dan minat murid. Pada pemetaan berdasarkan gaya belajar, guru bisa mendiferensiasikan proses dan konten pembelajaran. Khusus untuk gaya kinestetis, guru bisa membuat spot-spot belajar yang memudahkan murid bergerak dengan leluasa pada saat menjaring materi. Pada moda daring, guru bisa mengatur pembelajaran seperti dengan mengelompokkan materi-materi pada 2 sampai 3 folder yang berbeda tingkat kesulitannya. Murid bisa memilih sesuai kemampuan (diferensiasi konten). Selain itu guru juga bisa menempatkan penugasan disana. Untuk evaluasi dan hasil akhir, murid juga memiliki kebebasan untuk memilih folder soal yang diinginkan. Sungguh merupakan tantangan bagi guru dalam mengkreasikan pembelajaran ini.

     Model pembelajaran berdiferensiasi ini telah berdampak meningkatkan inklusifitas di kelas karena dapat meningkatkan adanya sikap saling kerjasama, berpartisipasi, saling membantu dan menghargai satu dengan lainnya. Selain itu motivasi siswa meningkat dengan diberikan aktivitas sesuai dengan ketertarikan mereka. Serta hasil pemahaman siswa juga meningkat dari tingkat sebelumnya.

 

Keterkaitan antar Materi dengan Modul 1

 


 

 

 

 

 

 

 

 

 

Comments

Popular posts from this blog

Demontrasi kontekstual modul 1.1

KELAS 9 PEMBELAJARAN 11. MENYIKAPI ARUS GLOBALISASI