KONEKSI ANTAR MATERI MODUL 3.1_ NI MADE RISA KUSADI_CGP ANGK.2-KABUPATEN TABANAN
KONEKSI ANTAR MATERI MODUL 3.1
Bapak Ibu CGP yang hebat, mari kita merangkum materi dari modul 1 dan membuat koneksinya, saya harapkan umpan balik serta tanggapan rekan sekalian terhadap tulisan saya yang penuh dengan keterbatasan. Semoga dengan umpan balik yang Bapak Ibu berikan, akan mampu memperkaya pemahaman saya terkait seluruh materi di modul 1,2, dan 3 (khususnya modul 3.1)
Panduan Pertanyaan untuk membuat Rangkuman Kesimpulan Pembelajaran (Koneksi Antarmateri):
1. 1. Bagaimana pandangan Ki Hajar Dewantara dengan
filosofi Pratap Triloka memiliki pengaruh terhadap bagaimana sebuah pengambilan
keputusan sebagai seorang pemimpin pembelajaran diambil?
Jawab
:
Pandangan Ki Hajar Dewantara dengan filosofi Pratap memiliki pengaruh terhadap bagaiamana pengambilan sebuah keputusan sebagai seorang pemimpin pembelajaran yang diambil.
Menurut Ki Hajar Dewantara tujuan pendidikan yaitu “ menuntut segala kodrat yang ada pada anak, agar mereka dapat mencapai keselamatan dan kebahagian yang setinggi-tingginya baik sebagai manusia maupun sebagai anggota masyarakat. Oleh karena itu pendidik hanya dapat menuntun tumbuh atau hidupnya kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak agar dapat memperbaiki lakunya (bukan dasarnya) hidup dan tumbuhnya kekuatan kodrat anak dalam mengambil suatu keputusan.
https://explee.com/video/mgo5yo4
Pratap Triloka yang digagas oleh Ki Hajar Dewantara selaku pendiri Perguruan Taman Siswa yang terkenal dengan semboyan ing ngarso sung toladha, ing madya mangun karsa, Tut wuri Handayani artinya di depan memberi teladan, tengah membangun motivasi/dorongan, dibelakang memberi dukungan. Berdasarkan hal tersebut diatas guru sebagai pemimpin pembelajaran sudah sepatutunya menerapkan pengambilan keputusan yang berpihak pada murid, dengan menerapkan 4 paradigma, 3 prinsip, dan 9 langkah pengambilan keputusan
Jawab
:
Nilai-nilai
yang tertanam dalam diri kita, berpengaruh terhadap prinsip-prinsip yang kita
ambil dalam pengambilan keputusan.
Guru sebagai pemimpin
pembelajaran tentu pernah mengalami dilema etika atau bujukan moral pada sebuah
keputusan yang diambil saat menangani kasus murid atau rekan sejawat komunitas di sekolah. Dengan mempertimbangkan
nilai benar vs benar (situasi yang terjadi ketika seseorang harus memilih
antara dua pilihan diamana dua pilihan itu secara moral benar tetapi
bertentangan), benar vs salah (seseorang membuat keputusan antara benar atau
salah). Maka nilai-nilai yang dianggap penting dan sesuai visi misi yang telah disepakati bersama akan menjadi patokan dasar sekaligus payung hukum bagi keputusan itu sendiri.
1. 3. Bagaimana kegiatan terbimbing yang kita lakukan
pada materi pengambilan keputusan berkaitan dengan kegiatan ‘coaching’
(bimbingan) yang diberikan pendamping atau fasilitator dalam perjalanan proses
pembelajaran kita, terutama dalam pengujian pengambilan keputusan yang telah
kita ambil. Apakah pengambilan keputusan tersebut telah efektif, masihkah ada
pertanyaan-pertanyaan dalam diri kita atas pengambilan keputusan tersebut.
Hal-hal ini tentunya bisa dibantu oleh sesi ‘coaching’ yang telah dibahas pada
modul 2 sebelumnya.
Jawab :
Kegiatan
terbimbing yang kita lakukan pada materi pengambilan keputusan berkaitan dengan
kegiatan coaching (bimbingan) yang diberikan pendamping dalam proses
pembelajaran kita, terutama dalam pengujian pengambilan keputusan tersebut.
Hal-hal ini bisa dibantu oleh sesi coaching dimana kegiatan ini sangat membantu di dalam penemuan jati diri dan solusi sendiri oleh coachee serta mengeksplore berbagai potensi optimal pada diri murid. Di dalam pengambilan keputusan jika kita sudah terbiasa dengan pola coach-coachee, maka tidak akan sulit bagi kita untuk menerapkan langkah-langkah pengambilan keputusan seperti yang diisyaratkan modul 3.1. (prinsip, paradigma, 9 langkah pengambilan keputusan dan pengujian). Dengan demikian tentu hal ini akan berimbas pada kegiatan yang dapat menghasilkan keputusan yang berpihak pada murid dengan tetap mengoptimalkan potensi yang ada.
Di dalam proses pembelajaran di kelas, guru sebagai pemimpin pembelajaran, harus bisa mengetahui kebutuhan belajar murid, memberi contoh yang baik, memahami karakter belajar murid serta kondisi social emosional mereka. Demi terwujudnya Profil Pelajar Pancasila, murid harus bisa menyelesaikan sendiri persoalan belajarnya di kelas yang merupakan dilema bagi mereka, dan di sinilah penting pendekatan Coaching, dimana guru sebagai coach memberi pertanyaan pemantik yang akan dijawab oleh siswa untuk menyelesaikan sendiri setiap persoalan yang dialaminya. Guru sebagai pemimpin pembelajaran selalu bersedia meluangkan waktu jika siswa membutuhkan, atau jika melihat ada perubahan belajar yang menurun pada siswa. Coaching tidak terlepas dari komunikasi yang efektif antara coach dan coachee dengan harapan terwujud kemandirian murid dalam mencari solusi.
1. 4. Bagaimana pembahasan studi kasus yang fokus pada
masalah moral atau etika kembali kepada nilai-nilai yang dianut seorang
pendidik.
Jawab
:
Pengaruh nilai-nilai dan prinsip yang dianut oleh seorang pendidik tentu akan sangat berpengaruh di dalam pengambilan keputusan. Ketika guru sudah kehilangan idealisme dan lebih mengutamakan kepentingan pribadi serta tidak memperhatikan nilai kejujuran dalam keseharian maka dalam pengambilan keputusannya, guru mungkin akan lebih mementingkan kepentingan pribadinya dan menjauh dari tanggung jawabnya sebagai pemimpin pembelajaran.
Namun jika seorang guru berpegang teguh pada nilai-nilai kejujuran dan menganggap bahwa setiap keputusan yang diambilnya akan dipertanggungjawabkan nanti pada Sang Pecipta.
Seorang
pendidik sebelumnya telah menanamkan nilai-nilai penting yang menjadi pedoman di kelas maupun di sekolah. Melalui kesepakatan kelas, murid akan bisa memahami nilai-nilai yang harus mereka jalankan dan menerima konsekuensi jika melanggar kesepakatan. Disinilah akan terbentuk budaya positif jika dilakukan dengan konsisten, namun tetap reflektif. Dengan demikian murid bisa melihat masalah atau persoalan yang sedang dihadapi, apakah merupakan
dilema etika atau bujukan moral. Nilai-nilai yang akan
diambilpun merupakan nilai yang merupakan kesepakatan sebelumnya. Di dalam proses ini, guru sebagai pemimpin pembelajaran, dengan berbagai cara akan
menuntun siswa tersebut kearah yang lebih baik dalam pengambilan keputusan. Tentunya keputusan yang diambil merupakan keputusan yang bertanggung jawab.
1. 5. Bagaimana pengambilan keputusan yang tepat,
tentunya berdampak pada terciptanya lingkungan yang positif, kondusif, aman dan
nyaman.
Pengambilan keputusan yang tepat sebagai pemimpin pembelajaran tentunya akan berdampak postif, aman, dan nyaman apabila kita bisa melihat kondisi dan situasi dimana kita akan mengambil sebuah keputusan. Menurut saya ada hal-hal yang perlu diperhatikan dalam menciptakan keputusan yang berdampak baik pada lingkungan, yaitu :
- Dengan berpegang pada visi misi yang telah disepakati serta nilai-nilai yang dianggap penting di lingkungan pengambilan keputusan tersebut,
- Selalu mengkomunikasikan keputusan-keputusan baik yang ada diranah kita ataupun yang tidak dengan bahasa yang komunikatif dan efektif
- Tidak segan juga untuk meminta pertimbangan pada orang yang menjadi panutan kita sebagai opsi trilema
- Selalu reflektif. Keputusan apapun yang diambil pada prinsipnya tidak akan pernah bisa memuaskan semua pihak, namun dengan bersikap reflektif, kita akan lebih terbuka pada pandangan orang lain dan kita tidak kaku pada prinsip sendiri. Namun jika menurut kita keputusan sudah sesuai dengan alur yang semestinya, kita juga bisa mempertahankan, tentunya dengan argumentasi yang bisa dipertanggungjawabkan.
1. 6. Selanjutnya, apakah kesulitan-kesulitan di
lingkungan Anda yang sulit dilaksanakan untuk menjalankan pengambilan keputusan
terhadap kasus-kasus dilema etika ini? Apakah ini kembali ke masalah perubahan
paradigma di lingkungan Anda?
Saya menemukan kesulitan dalam pengambilan keputusan di lingkungan saya, jika saya berada di posisi lingkungan dimana pihak-pihak yang terlibat di dalamnya belum memahami sepenuhnya tentang prinsip, paradigma dan 9 langkah ini. Jadi disini saya belum satu visi atau jalan pemikiran kita yang masih jauh berbeda. Nilai-nilai yang kita anut jika tidak sejalan dengan mereka, maka akan terjadi juga benturan kepentingan. Jika berbicara tentang paradigma, tentu ini akan berpengaruh pada proses pengambilan keputusan dan bagaimana orang lain merespon keputusan yang kita buat. oleh karena itu saya akan berusaha untuk memperkenalkan modul ini dengan bahasa yang lebih mudah dipahami.
1. 7. Dan pada akhirnya, apakah pengaruh pengambilan keputusan yang kita ambil ini dengan pengajaran yang memerdekakan murid-murid kita?
Jawab:
Pengambilan keputusan yang baik tentu akan berdampak pada terciptanya lingkungan belajar yang positif, kondusif dan nyaman. Murid akan merasakan kenyamanan dalam belajar karena pembelajaran berorientasi penuh pada kebutuhan mereka. Ini akan berimbas pada suasana "Merdeka Belajar" dimana mereka bisa mengeksplor bakat dan potensinya secara bertanggung jawab.
1. 8. Bagaimana seorang pemimpin pembelajaran dalam
mengambil keputusan dapat mempengaruhi kehidupan atau masa depan
murid-muridnya?
Keputusan guru sebagai seorang pemimpin pembelajaran dalam mengambil keputusan tentu mempengaruhi kehidupan atau masa depan murid-muridnya. Guru mengajarkan cara berhitung dan membaca adalah baik, namun saat guru mampu mengajarkan apa yang utama dan berharga itu yang terbaik karena memerlukan proses pembiasaan, keteladanan yang dilakukan secara terus-menerus dan konsisten.
Dengan
memberi nilai-nilai positif, menciptakan rasa nyaman pada siswa merupakan
motivasi seorang pendidik dalam
mengambil keputusan. Seorang pendidik dengan berbagai cara pasti akan
memberikan yang terbaik untuk murid oleh karena itu keputusan yang baik pula
untuk perkembangan muridnya.
1. 9. Apakah kesimpulan akhir yang dapat Anda tarik dari pembelajaran modul materi ini dan keterkaitannya dengan modul-modul sebelumnya?
Jawab:
Kesimpulan
akhir terkait modul 3.1 Pengambilan Keputusan Sebagai Pemimpin Pembelajaran
dengan modul-modul yang telah dipelajari sebelumnya merupakan suatu tidak
terpisahkan untuk mencapai kemerdekaan dalam belajar pada murid, Ki Hajar
Dewantara dalam menuntut segala proses dan kodrat/potensi anak untuk mencapai
sebuah keselamatan dan kebahagiaan belajar, baik untuk dirinya sendiri, sekolah maupun masyarakat. Selain
itu juga proses pembelajaran di seorang pendidik harus bisa melihat
kebutuhan belajar pada anak serta mengelola kompentensi social emosional dalam
mengambil sebuah keputusan sebagai pemimpin pembelajaran. Pendekatan Coaching
juga merupakan salah satu pendekatan yang
membantu siswa dalam mencari solusi atas masalahnya sendiri dan hal
inilah yang merupakan salah satu trik sebagai seorang pendidik bisa mengetahui
permasalahan yang dialami oleh siswa lewat pertanyaan-pemantik saat coaching.
Sebagai seorang guru penggerak juga harus mengetahui permasalahan yang dialami
oleh rekan sejawat dalam proses pembelajaran dan coahing dapat menemukan
jawaban atas setiap pertanyaan untuk menemukan solusi maka terciptalah budaya
positif pada lingkungan belajar di sekolah dan komunitas praktisi. Para pendidik
yang mampu membuat keputusan sebagai pemimpin pembelajaran merupakan cita-cita
guru masa depan, dan proses pengambilan keputusan berdasarkan dilema etika.












Luar Biasa , tulisannya mantap , semoga sukses , keputusan-keputusan yang diambil tepat guna berpihak pada murid
ReplyDelete